TIMES MALAYSIA, JAKARTA – Ada hal-hal yang tak perlu dilihat atau didengar untuk membuat hati bergetar. Aroma, sering kali, bekerja paling diam-diam namun paling jujur. Ia menembus ingatan tanpa izin, membawa kita pulang ke waktu yang bahkan tak sempat kita abadikan dengan kamera.
Jejak aroma memiliki kemampuan langka: menghidupkan kembali perasaan yang sudah lama kita kubur. Ia datang tanpa aba-aba, lalu tinggal lebih lama dari yang kita kira.
1. Aroma Tanah Basah Saat Hujan Pertama Kali Turun
Ada sesuatu yang magis dari hujan pertama setelah kemarau panjang. Harum tanah basah—yang sering disebut petrichor—seolah mengumumkan bahwa hidup diberi kesempatan baru.
Aroma tersebut mengingatkan kita pada masa kecil, pada lari-lari tanpa alas kaki, pada jendela rumah yang terbuka lebar, dan pada doa-doa sederhana yang diam-diam terjawab. Aroma ini juga membawa rasa tenang yang sulit dijelaskan dengan logika. Seolah alam sedang berbisik bahwa segalanya akan baik-baik saja.
2. Aroma Kertas Terbakar
Aroma kertas terbakar mungkin terdengar ganjil untuk dirindukan. Tapi bagi banyak orang, wangi ini membawa kenangan tertentu: membakar surat lama, catatan usang, atau sekadar kertas latihan di masa sekolah.
Ada kesan melepaskan, menutup bab lama, atau bahkan pemberontakan kecil yang tak berbahaya. Jejak aromanya terasa hangat sekaligus getir, seperti perpisahan yang memang perlu dilakukan. Ia mengajarkan bahwa tidak semua kenangan harus disimpan.
3. Aroma Keringat Orang Tua
Tak harum, tak dibuat-buat, dan sering kali justru ingin kita hindari saat kecil. Namun ketika dewasa, busuknya bau keringat orang tua—terutama ayah atau ibu sepulang bekerja—menjadi simbol perjuangan.
Wewangian alami ini menyimpan cerita tentang lelah yang ditahan, tentang tanggung jawab yang tak pernah diumumkan, dan tentang cinta yang tak banyak bicara. Ia adalah bukti nyata dari pengorbanan yang jarang dirayakan. Ketika aroma itu tak lagi kita temui, rindu datang dengan cara yang paling sunyi.
4. Aroma Rumah yang Baru Dimasuki
Setiap rumah punya bau khas tersendiri. Jejak wewangian rumah yang baru dimasuki—entah rumah lama, kontrakan baru, atau rumah nenek di kampung—selalu membawa rasa asing sekaligus aman.
Ada campuran debu, kayu, udara lama, dan wewangian asing yang belum kita kenal. Wangi khusus tersebut sering menjadi penanda awal: awal menetap, awal pulang, atau awal hidup yang sedikit berbeda. Ia membuat kita perlahan percaya bahwa sebuah tempat bisa menjadi rumah. Bahkan sebelum kita benar-benar mengenalnya.
5. Harum Masakan Ibu di Pagi Hari
Inilah aroma tambahan yang hampir selalu dirindukan tanpa perlu alasan. Harum tumisan bawang di pagi hari, nasi hangat, atau kuah sederhana yang mendidih pelan. Wewangian ini adalah bentuk cinta paling praktis dan konsisten.
Bau-bau khas tersebut membangunkan kita bukan hanya dari tidur, tapi dari rasa malas, dari keraguan, dari dunia yang kadang terasa berat. Dalam aroma itu, ada perhatian yang tak pernah meminta balasan. Ada rumah, ada pulang, ada rasa cukup. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: 5 Aroma yang Diam-Diam Dirindukan, Ada Petrichor
| Writer | : Khodijah Siti |
| Editor | : Khodijah Siti |