TIMES MALAYSIA, NGAWI – Lebaran tak lengkap rasanya tanpa hadirnya jajanan tradisional khas yang menggugah selera. Salah satu kuliner yang tetap bertahan dari generasi ke generasi adalah madu mongso. Perpaduan rasa manis, legit, dan sedikit asam dari fermentasi ketan hitam menjadikan jajanan ini selalu dinantikan di setiap perayaan Idul Fitri.
Di Desa Kendal, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi, madu mongso masih diproduksi secara tradisional oleh para perajin lokal. Salah satu di antaranya adalah Bu Suparmi, seorang yang telah puluhan tahun mempertahankan warisan kuliner ini.
Madu mongso yang baru selesai masak dan sedang dikemas. (FOTO: Muhammad Rofi D/TIMES Indonesia)
Bu Suparmi pemproduksi madu mongso menjelaskan bahwa pembuatan madu mongso membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Prosesnya diawali dengan merendam ketan hitam selama satu malam hingga lunak, kemudian dikukus hingga matang. Setelah itu, ketan difermentasi selama dua hingga tiga hari untuk menghasilkan rasa asam yang khas.
"Tahap fermentasi ini sangat penting karena akan mempengaruhi tekstur dan rasa. Kalau terlalu sebentar, rasanya kurang keluar, kalau terlalu lama, justru bisa terlalu asam," ujar Bu Suparmi sambil mengaduk adonan yang tengah dimasak di atas wajan besar.
Madu mongso yang sudah siap disajikan dan siap dikirim ke pemesan. (FOTO: Muhammad Rofi D/TIMES Indonesia)
Setelah proses fermentasi selesai, ketan dicampur dengan santan, gula merah, dan sedikit garam, lalu dimasak selama berjam-jam hingga mengental dan berubah warna menjadi cokelat kehitaman yang menggoda. Pengadukan harus dilakukan terus-menerus agar tidak gosong.
"Kesabaran adalah kunci utama dalam membuat madu mongso. Kalau tidak sabar, ya bisa gagal," tambahnya dengan senyum hangat.
Di era makanan instan dan jajanan kekinian, madu mongso masih tetap diminati, terutama saat Lebaran. Meskipun banyak camilan modern bermunculan, kehadiran madu mongso tetap menjadi tradisi yang dirindukan.
"Setiap tahun saat Idul Fitri, pesanan bisa meningkat dua kali lipat dibandingkan hari biasa. Biasanya orang membeli untuk suguhan tamu atau oleh-oleh," ungkap Bu Suparmi sambil menunjukkan beberapa madu mongso yang telah dibungkus rapi dengan kertas warna-warni, ciri khas jajanan ini. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Madu Mongso, Cita Rasa Manis yang Tak Lekang Waktu saat Idul Fitri
Writer | : Muhammad Rofi D (MG) |
Editor | : Deasy Mayasari |